Monday, 26 October 2015

Apa Itu Protein ?

Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan aktivitas. Untuk melakukan aktivitas itu, kita memerlukan energi yang dapat diperoleh dari bahan makanan yang kita makan. Pada umumnya bahan makanan itu mengandung tiga kelompok utama senyawa kimia, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. Selain itu protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik. Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh, dan memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Struktur protein tidak stabil karena mudah mengalami denaturasi yaitu keadaan dimana protein terurai menjadi struktur primernya, baik reversibel maupun ireversibel. Faktor-faktor yang menyebabkan denaturasi adalah pH, panas, pelarut, kekuatan ion, terlarut, dan radiasi. Denaturasi yang berbahaya yaitu raksa (Hg) untuk pemurnian emas seperti yang terjadi di Minamata, Jepang. Protein ada yang reaktif karena asam amino penyusunnya mengandung gugus fungsi yang reaktif, seperti SH, -OH, NH2, dan –COOH. Contoh protein aktif adalah enzim, hormon, antibodi, dan protein transport. Reaksi protein aktif bersifat selektif dan spesifik, gugus sampingnya yang selektif dan susunan khas makromolekulnya. Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang, uji xantroproteat, dan uji biuret. Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol. Serta uji koagulasi dan denaturasi protein. Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji bersifat uji berdasakan jenis asam aminonya. Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan, uji belerang terhadap sistein, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Serta uji xantroproteat bereaksi positif untuk asam amino yang mengandung inti benzena.

Zat Gizi Esensial untuk Janin

Metabolisme di dalam tubuh janin bergantung pada makanan ibu. Jadi, bagaimana membuat janin Anda tumbuh dan berkembang optimal? Proses tumbuh-kembang janin membutuhkan zat gizi lengkap sesuai dengan tahapan pertumbuhan yang sedang dijalaninya. Jadi, dia memerlukan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air secara seimbang. Perlu Anda ketahui, tahapan proses tumbuh-kembang janin tiap trimester kehamilan itu berbeda. Yang pasti, kebutuhan asupan zat gizi akan meningkat sesuai dengan usia kehamilan. Peningkatan kebutuhan zat gizi paling banyak terjadi pada trimester ke-3, karena pertumbuhan janin berlangsung sangat pesat. Itu sebabnya, selama kehamilan Anda harus mengonsumsi makanan yang berkualitas dalam jumlah cukup, sehingga pertumbuhan janin berjalan sempurna. Konsumsilah makanan bergizi seimbang dengan banyak variasi. Selain itu, konsumsi makanan yang segar, bukan yang diawetkan. Trimester 1: gizi untuk otak Pada trimester pertama, janin Anda sedang menjalani proses pembentukan otak, sistem saraf, jantung, dan organ-organ reproduksi. Sejumlah zat gizi yang perlu Anda perhatikan asupannya pada rentang trimester ini adalah:

* Asam folat Salah satu jenis vitamin B ini, sangat besar peranannya dalam proses pembentukan sistem saraf pusat, termasuk otak. Sumber asam folat antara lain sayuran berdaun hijau tua, jeruk, apel, hati sapi, kacang kedelai, tempe , serta serealia yang sudah difortifikasi dengan asam folat.

* Asam lemak tak jenuh Selain asam folat, proses tumbuh kembang sistem saraf pusat dan otak janin juga butuh bantuan asam lemak tak jenuh. Sumbernya antara lain, ikan tenggiri, ikan kembung, ikan tuna, dan ikan tongkol.

* Vitamin B12 Agar berbagai sel tubuh janin yang telah terbentuk berfungsi normal, tubuhnya membutuhkan vitamin B12. Vitamin ini terutama berfungsi menjaga kerja sel-sel sumsum tulang belakang, sistem saraf, dan saluran pencernaan. Contoh makanan sumber vitamin B12 adalah hasil ternak dan produk olahannya, serta produk olahan kacang kedelai, misalnya tempe dan tahu.

* Vitamin D Vitamin ini dibutuhkan untuk memperbaiki penyerapan kalsium (Ca) dan membantu keseimbangan mineral di dalam darah. Sumber vitamin D, di antaranya adalah ikan salmon, ikan hering, dan susu. Trimester 2: gizi untuk pertumbuhan Selama trimester ke-2 ini, proses tumbuh kembang janin Anda berjalan lebih cepat dari trimester sebelumnya. Untuk itu, dibutuhkan zat-zat gizi penunjang, yakni:

* Protein Pada saat ini si kecil dalam masa pembentukan jaringan baru serta mempertahankan jaringan yang sudah terbentuk sebelumnya. Juga, pembentukan berbagai struktur organ, seperti tulang dan otot, serta pembentukan sistem kekebalan tubuh dan sel-sel darah merah baru, yang kesemuanya itu membutuhkan protein. Makanan sumber protein yang dapat Anda pilih, misalnya daging merah, jeroan, telur, tempe dan tahu.

* Vitamin A Proses metabolisme yang berkaitan dengan penglihatan, pembentukan tulang, sistem kekebalan tubuh, serta pembentukan sistem saraf, membutuhkan zat gizi berupa vitamin A. Anda dapat memenuhi kebutuhan vitamin A dengan mengonsumsi daging ayam, telur itik, kangkung, dan wortel.

* Kalsium (Ca) Zat gizi ini diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi janin, juga diri Anda. Sumber makanan kalsium antara lain yoghurt, bayam rebus, jeruk, dan roti gandum.

* Zat besi (Fe) Untuk membentuk sel darah merah sebagai “alat” mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh Anda dan janin, dibutuhkan zat besi (Fe). Sumber zat besi yang baik, antara lain daging sapi, daging ayam, hati sapi, ikan bawal, dan udang segar. Trimester 3: gizi untuk persalinan Di trimester ini, Anda harus menyiapkan cadangan energi yang cukup. Selain untuk pertumbuhan janin yang cepat pada trimester terakhir ini, juga untuk mempersiapkan diri menghadapi proses persalinan dan produksi ASI.

* Kalori Penambahan kalori, dibutuhkan pada 20 minggu terakhir kehamilan. Untuk memenuhi kebutuhan kalori yang meningkat, Anda dapat memenuhinya dengan mengonsumsi karbohidrat dalam bentuk padi-padian (nasi, roti), umbi seperti kentang, gula, kacang-kacangan, biji-bijian, dan susu.

* Vitamin B6 (piridoksin) Untuk menjalankan lebih dari 100 reaksi kimia yang melibatkan enzim, tubuh Anda membutuhkan vitamin B6. Vitamin ini banyak berperan dalam pembentukan senyawa kimia penghantar pesan antar-sel saraf (neurotransmitter). Beberapa makanan sumber vitamin B6 adalah hati sapi, daging ayam tidak berlemak, daging ayam panggang, nasi putih, dan pisang. Selain zat-zat gizi yang telah disebutkan, masih banyak zat-zat gizi lainnya yang juga harus dicukupi kebutuhannya selama masa kehamilan. Antara lain, vitamin C, serat, seng (Zn), dan yodium (I). Untuk memenuhinya, masukkanlah aneka

Makanan Bergula dan Kerusakan Gigi

Meskipun gula pasir sudah menjadi bagian menu kita sehari-hari sejak lama, tapi ternyata gula dalam makanan juga menjadi isu kontraversial pada beberapa tahun terakhir. Isu ini begitu luasnya sehingga telah melibatkan diskusi dan pendapat para dokter, ilmuwan, ahli gizi, warga negara sipil dan militer, pemerintah dan industri pangan sendiri. Berbagai kelompok masyarakat dan ilmuwan, khususnya para ahli kesehatan dan gizi berpendapat bahwa manusia akan lebih sehat bila mereka mengkonsumsi gula lebih sedikit. Bukan karena gula dapat mendatangkan malapetaka bagi manusia, tetapi karena kontribusi gula dalam makanan hanyalah terletak pada rasa dan kalori saja. Masalahnya, pada jaman moderen ini gula merupakan bumbu atau ingredien yang paling banyak digunakan dalam berbagai
jenis makanan.

Diantara kerugian yang paling banyak disorot dari pemakaian gula pasir dalam makanan bergula seperti permen, snack, minuman adalah kerusakan atau pengeroposan gigi, terutama pada anak-anak. Karena dapat menyebabkan kerusakan atau karies gigi, maka gula digolongkan sebagai senyawa kariogenik. Tetapi, dengan mengerti mengapa dan bagaimana gigi dapat rusak akibat mengkonsumsi gula atau makanan bergula tinggi, kita dapat mencegah karies gigi tersebut. Sehingga kesehatan gigi, terutama gigi anak-anak kita dapat dijaga.

1. Mengenal Gula Pasir
Gula pasir atau sukrosa adalah jenis gula terbanyak di alam, diperoleh dari ekstraksi batang tebu, umbi beet, nira palem dan nira pohon maple. Jenis gula ini paling banyak dikonsumsi dalam rumah tangga, rumah makan, catering dan sebagainya. Sukrosa lebih dikenal sebagai gula pasir. Sebuah molekul sukrosa terdiri dari 2 molekul gula yaitu satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Oleh pemberian zat kimia (asam) molekul sukrosa pecah menjadi dua molekul tersebut.
Karena glukosa kurang manis dari sukrosa dan fruktosa lebih manis dari sukrosa, terjadilah pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa masih sulit dideteksi oleh cecapan kita. Pemecahan sukrosa memang terjadi khususnya pada makanan yang bersifat asam. Sukrosa sering digunakan tolok ukur tingkat kemanisan gula-gula lain.
Bila sukrosa atau gula pasir dinilai memiliki kemanisan 1, maka glukosa hanya memiliki kemanisan 0,74, laktosa 0,16, maltosa 0,32, galaktosa 0,32 dan fruktosa 1,73 serta gula invert (glukosa dan fruktosa perbandingannya 1 : 1) 1,30. Sedangkan bila dibandingkan dengan pemanis buatan maka perbandingan kemanisannya adalah sebagai berikut :xilitol 1, sukralosa 600, siklamat 30, acesulfame-K 150, dulcin 250, thaumatin 3.500, steviosida 300, suosan 350, aspartam 200, P-4000 4.000, D-triptofan 35 dan asam sukrolonik 200.000.

2.Prevalensi Karies Gigi
Sakit keropos gigi, disebut juga karies gigi merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Di Amerika saja, yang tergolong sudah maju, hasil survai menunjukkan bahwa penyakit karies gigi melanda hampir 100 persen populasi anak, mulai dari anak-anak yang memiliki gigi berlobang kecil, yang perlu ditambal, serta yang telah dicabut.
Prevalensi atau kasus terjadinya karies gigi di antara bayi dan anak-anak kecil prasekolah telah diteliti oleh banyak ahli dan ternyata paling sedikit 25 persen karies gigi terdapat pada anak-anak yang berusia 2 tahun dan hampir sebanyak duapertiga dari seluruh jumlah anak-anak berusia 3 tahun menderita karies gigi. Demikian juga dengan di Inggris, Jepang dan Hongaria yang masyarakatnya senang sekali mengkonsumsi gula, sehingga kerusakan gigi lebih banyak ditemui. Konsumsi gula yang tinggi berpengaruh terhadap keutuhan gigi terutama pada anak-anak, dan permen yang merupakan kegemaran anak-anak berperan besar dalam hal ini.
Di Indonesia, keadaannya sangat berbeda antara kota dan desa. Di kota-kota besar, konsumsi gula dan makanan bergula terutama oleh anak-anak, diperkirangan cukup tinggi. Hal ini secara tidak langsung terlihat dari banyak kasus karies gigi pada anak-anak sekolah di kota. Di desa, konsumsi gula dalam bentuk permen dan makanan bergula lainnya masih rendah, sehingga masih banyak anak-anak desa mempunyai gigi yang indah-indah karena konsumsi gula yang rendah. Demikian pula dengan orang-orang Cina dan Eithiopia yang sedikit sekali mengkonsumsi gula, karena itu giginya indah-indah.
Di daratan Eropa pada waktu sedang dilanda perang dunia, di mana gula sukrosa tidak banyak ditemukan di pasaran, angka kasus karies menurun drastis. Tetapi pada masa-masa damai setelah perang, kasus karies meningkat lagi, sama keadaannya seperti keadaan sebelum perang. Kasus karies gigi meningkat seirama dengan meningkatnya konsumsi gula pasir sukrosa bagi masyarakat setempat.

3. Karies Gigi
Karies gigi adalah penyakit keropos yang dimulai pada lokasi tertentu pada bagian gigi, dan diikuti proses kerusakan atau pembusukan gigi secara cepat. Karies gigi dimulai dengan terjadinya pengikisan mineral-mineral dari permukaan atau enamel gigi, oleh asam organik hasil fermentasi karbohidrat makanan (terutama gula pasir dan pati-patian) yang tertinggal melekat pada bagian-bagian dan sela-sela gigi oleh bakteri-bakteri asam laktat.
Bahwa gula pasir atau sukrosa merupakan salah satu penyebab karies gigi yang utama telah secara jelas dapat dibuktikan pada binatang percobaan. Pada penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa sesungguhnya faktor yang menyebabkan terjadinya karies adalah adanya makanan yang mengandung sukrosa tinggi dan kebetulan tertinggal cukup lama pada gusi dan gigi. Jadi bila seluruh gula sukrosa yang dikonsumsi langsung tertelan masuk ke dalam perut tanpa ada yang tertinggal pada gigi, maka hal itu tidak akan menyebabkan penyebab karies gigi Ternyata sukrosa dalam bentuk makanan yang bersifat lengket akan lebih besar peluangnya sebagai penyebab karies.
Dari hasil berbagai penelitian terhadap binatang percobaan dan juga penelitian yang dilaksanakan langsung pada manusia, mengungkapkan bahwa berbagai jenis gula dan hubungannya sebagai penyebab terjadinya karies gigi telah dinilai berdasarkan urutan kegawatannya terhadap terjadinya karies yaitu sebagai berikut: gula sukrosa yang paling gawat, diikuti oleh glukosa, maltosa, laktosa, fruktosa, sorbitol dan xylitol. Hampir seluruh peneliti yang bekerja pada bidang tersebut yakin bahwa sukrosa merupakan perangsang dan penyebab terjadinya karies gigi pada manusia.
Berbagai hasil penelitian telah dapat dibuktikan bahwa kasus karies gigi pada anak-anak sebetulnya dapat diturunkan dengan bermakna (nyata) hanya dengan melakukan penggantian komponen sukrosa dalam makanan dengan glukosa, fruktosa atau jenis gula lain. Dengan alasan tersebut "chewing gum" sering diberi sorbitol, pengganti sukrosa.

4. Proses Terjadinya Karies
Karies gigi pada manusia merupakan salah satu penyakit yang sangat luas penyebarannya, diperkirakan melanda lebih banyak dari 90 persen dari jumlah penduduk dewasa, dan lanjut usia. Secara umum diterima alasan bahwa terjadinya karies gigi akibat dari kebiasaan makan yang salah, terutama karena terlalu seringnya mencerna makanan yang mengandung sukrosa.
Penyakit tersebut dimulai dari ulah bakteri atau kuman-kuman yang berada pada permukaan gigi. Daya kariogenetiknya dari kuman tersebut timbul karena adanya produksi asam laktat oleh beberapa jenis bakteri asam laktat, dengan akibat pH cairan di sekitar gigi tersebut menjadi rendah atau bersifat sangat asam. Kondisi mana cukup kuat untuk melarutkan mineral-mineral dari permukaan gigi, sehinga gigi jadi keropos.
Di dalam rongga mulut manusia terdapat berbagai jenis mikroba atau bakteri yang banyak kaitannya dengan pembentukan asam laktat yaitu Streptococcus mutant, S. sanguis, S. nitis, S. salivarius, dan spesies laktobacillus. Semua jenis bakteri tersebut terkenal pandai membentuk senyawa polimer ekstra sellular dari sukrosa, tetapi tidak dari karbohidrat lain.
Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa strain bakteri S. mutant, berperanan sangat penting sebagai penyebab terjadi karies gigi. Dan hal itu mungkin, karena S. mutans mampu memproduksi senyawa glukan (atau juga disebut mutan) dalam jumlah yang besar dari sukrosa dengan pertolongan enzim ekstra selulair yang disebut Glucosyl transferase.
Bagaimana sampai sukrosa dapat menjadi penyebab karies gigi telah lama dapat diungkapkan oleh Mäkinen pada tahun 1977 sebagai berikut: seperti telah dijelaskan di atas mikroba keriogenik Streptococcus yang berada dalam mulut, secara anaerobik melalui enzim yang diproduksinya mampu mencerna atau menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Dari hasil metabolisma jenis gula tersebut, terbentuklah polimer rantai panjang dari glukosa yang disebut dekstran atau polimer rantai panjang dari fruktosa yang disebut levans. Jenis polimer-polimer tersebut kemudian berkembang menjadi noda pada permukaan gigi. Noda-noda tersebut bersifat gel yang sangat lengket sekali. Proses pengeroposan gigi sendiri disebabkan oleh pengaruh asam laktat, yaitu produk hasil sampingan dari metabolisir fruktosa dan levans.

5. Kebiasaan Makan dan Kerusakan Gigi
Sebenarnya susu sapi dalam bentuk susu formula yang belum ditambah gula pasir, tidak bersifat kariogenik, tetapi malahan bersifat pelindung terhadap sukrosa serta jenis makanan lain yang bersifat kariogenik. Jenis makanan tersebut dikategorikan bersifat kariostatik. Disamping susu, ternyata keju juga bersifat kariostatik. Sayang sekali penjelasan yang gamblang mengenai bagaimana, melalui cara dan mekanisme apa, sehingga susu sapi dan keju mampu bersifat kariostatik masih belum dapat dinalarkan. Salah satu teori yang menjelaskan hal itu adalah, kemungkinan tingginya kandungan kalsium dan fosfat dalam produk-produk tersebut, sehingga mampu menekan proses demineralisasi enamel gigi melalui sistem efek ion biasa. Kasein dalam susu dapat mengurangi daya kelarutan enamel gigi.
Di samping susu dan keju, beberapa biji-bijian yang tinggi kandungan phytatnya seperti kacang-kacangan juga bersifat kariostatik, mampu menghambat tumbuhnya penyakit karies gigi. Tetapi phytat dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam tubuh. Jadi tidak bijaksana menganjurkan makanan yang tinggi kandungan phytatnya bagi makanan bayi. Sifat phytat tersebut kemungkinan besar disebabkan karena kandungan gugusan fosfatnya dalam molekul asam phytat.
Bayi dan anak kecil ada yang dibiasakan "ngemut" dot susu botol atau botol yang berisi air gula sambil tidur. Dengan demikian memungkinkan terjadinya laju penyedotan isi botol lebih cepat dari laju penelanan, sehingga sering susu berada di dalam mulut terlalu lama. Dan akibatnya bayi-bayi yang dibiasakan melakukan praktek demikian, akan mengalami karies gigi dan rusak gigi khususnya di bagian atas depan. Hal itu terjadi karena disebabkan adanya kadar gula, khususnya sukrosa yang sering ditambahkan ke dalam susu formula atau ke dalam air teh manis (dengan gula pasir). Dari penjelasan tersebut susu formula atau formula lanjutan tanpa sukrosa memiliki banyak keuntungan dalam pencegahan karies gigi.
Snack dan makanan jajanan yang dikonsumsi antar makan pagi, siang dan malam, ternyata bersifat kondusif terhadap terjadinya karies gigi. Hal itu disebabkan karena kandungan karbohidratnya, khususnya kandungan gula sukrosanya dalam jenis makanan tersebut. Contoh makanan snack tersebut adalah cookies, cakes, chewing gum, minuman beverages, termasuk minuman terkarbonasi, permen dan snack lain yang tinggi kandungan sukrosanya.

Pencegahan Karies
Karena melarang makan snack sulit sekali, maka cara yang terbaik adalah menyediakan/memilih makanan snack yang rendah kandungan disacharida dan monosacharidanya. Misalnya buah-buahan segar, sayuran, roti tawar, peanut butter, keju dan lainnya.
Seperti telah disinggung di atas, bahwa sesungguhnya faktor yang menyebabkan terjadinya karies adalah adanya makanan yang mengandung gula pasir atau sukrosa tinggi dan kebetulan tertinggal cukup lama pada gusi dan gigi. Jadi bila seluruh gula sukrosa yang dikonsumsi langsung tertelan masuk ke dalam perut tanpa ada yang tertinggal pada gigi, maka hal itu tidak akan menyebabkan penyebab karies gigi. Dengan demikian sebaiknya gigi harus segera dibersihkan misalnya dengan banyak minum air putih, atau lebih baik lagi jika berkumur atau sikat gigi setelah makan permen, snack atau kue-kue bergula lainnya.

Apakah Alfa Protein itu?

Salah satu nutrisi ‘emas’ yang terkandung dalam ASI dan membuat ASI menjadi sangat special, adalah Alfa laktalbumin, atau juga biasa disebut dengan alfa protein.
Dalam ASI terdapat 2 jenis protein, yaitu Whey dan Kasein. Whey protein merupakan jenis protein susu yang lebih mudah dicerna karena bentuknya yang lebih lembut. Sedangkan kasein adalah jenis protein susu yang lebih sulit dicerna, terutama oleh bayi dan anak, karena bentuknya yang lebih padat. Tidak seperti susu sapi yang memiliki 20% whey dan 80% kasein, ASI memiliki 60% Whey dan 40% Kasein. Alfa protein merupakan jenis protein terbanyak yang terdapat dalam whey protein ASI.
Jenis whey protein lain yang terdapat dalam susu sapi adalah beta-laktoglobulin, yang merupakan jenis protein yang berpotensi untuk menyebabkan alergi pada bayi dan anak-anak. Beta-laktoglobulin ini justru tidak terdapat dalam ASI tapi banyak terdapat dalam susu sapi.
Alfa protein merupakan protein utama yang terdapat fraksi Whey dalam ASI (22% dari total protein). Alfa protein juga merupakan sumber asam-asam amino esensial yang tidak bisa dibuat dalam tubuh manusia. Salah satu asam amino esensial yang banyak terdapat dalam Alfa protein adalah asam amino triptopan yang salah satu fungsinya adalah untuk mengatur pola-pola kehidupan anak seperti pola tidur.

MANFAAT ALFA PROTEIN
  • Meningkatkan daya cerna protein sehingga mudah diserap tubuh.
  • Menurunkan risiko terjadinya intoleransi karena protein susu.
  • Sumber asam amino (pembentuk protein) untuk membantu tumbuh kembang bayi dan anak.
  • Membantu meringankan kerja ginjal untuk mencerna protein.
  • Sumber asam amino triptophan (asam amino esensial) yang berperan dalam mengatur pola tidur bayi dan anak.
  • Membantu meningkatkan bakteri baik dalam saluran pencernaan dan bisa membantu mengurasi risiko terjadinya infeksi karena bakteri.

Benarkah Minuman Energi Selalu Berenergi?

Secara biokimia, bahan pangan yang berfungsi sebagai penghasil energi berasal dari karbohidrat dan lipid, sedangkan protein pada dasarnya tidak dipakai sebagai sumber bahan bakar, kecuali jika asupannya berlebih. Komposisi bahan pangan untuk memasok bahan bakar yang baik terdiri dari karbohidrat 50%, lipid 30%, dan protein 20%. Produksi energi di dalam tubuh setiap orang sangat bervariasi. Hal itu tergantung pada tingkat penggunaannya, komposisi bahan bakar dalam diet, serta waktu sejak makan yang terakhir. Molekul bahan bakar akan didegradasi (reaksi katabolisme) menjadi karbondioksida dan air dengan melepaskan energi dalam bentuk ATP (adenosin trifosfat) dan senyawa pereduksi NADH (nikotinamid adenin dinukleotida). Untuk memproduksi energi, tidak hanya diperlukan pasokan bahan bakar, tetapi juga sistem hormon (yang berfungsi sebagai pengendali reaksi) dan sistem enzim (yang bertindak sebagai pelaksana reaksi). Misalnya hormon insulin dan glukagon untuk mengatur kadar gula darah. Selain itu, vitamin (koenzim) dan ion logam (kofaktor) dalam jumlah sedikit diperlukan untuk membantu kerja enzim dalam katabolisme. Vitamin-vitamin tersebut antara lain, yaitu tiamin (B1), riboflavin (B2), niasin (B3), dan asam pantotenat (B5). Kandungan taurin dan kafein dalam minuman energi yang ada di pasaran ternyata lebih mendominasi dibandingkan kandungan molekul bahan bakarnya. Dilihat dari struktur, senyawa taurin dan kafein bukan merupakan molekul sumber energi. Berdasarkan fungsinya dalam metabolisme, kedua bahan kimia itu lebih cocok bertindak sebagai stimulan daripada sebagai sumber energi. Taurin mengandung gugus amino, tapi tidak memiliki gugus karboksil yang diperlukan untuk membentuk ikatan peptida. Itu sebabnya, molekul tersebut tidak berfungsi sebagai pembangun struktur protein. Taurin merupakan senyawa tidak esensial bagi nutrien manusia karena secara internal dapat disintesis dari asam amino metionin atau sistein dan piridoksin (vitamin B6). Pada kondisi tertentu, seperti pada saat perkembangan, taurin memang diperlukan. Itu sebabnya, taurin banyak ditemukan dalam susu murni, telur, daging, dan ikan. Dala
m metabolisme manusia, taurin memiliki dua peran, yaitu sebagai penghambat neurotransmiter dan sebagai bagian dari pengemulsi asam empedu. Konjugasi taurin dengan asam empedu memberikan efek signifikan untuk melarutkan kolesterol dan meningkatkan ekskresinya. Secara medis, taurin dipakai untuk menangani kasus gagal jantung, cystic fibrosis, diabetes, epilepsi, dan beberapa kondisi lain. Sementara itu, kafein merupakan senyawa alkaloid pahit yang ditemukan dalam teh dan kopi. Efek farmakologi kafein adalah sebagai perangsang sistem saraf pusat, jantung, dan pernafasan. Efek lainnya yaitu mengendurkan otot halus, merangsang otot jantung, dan merangsang diuresis (aliran urin berlebih). Kafein diabsorbsi dengan sempurna dalam sistem pencernaan selama 30-60 menit. Maksimum efek yang terjadi di otak akan muncul dalam dua jam. Dengan demikian, kafein tidak berefek segera. Tidak seperti stimulan sistem saraf lainnya, kafein sangat cepat dihapus dari otak. Kombinasi taurin dan kafein dalam minuman energi akan merangsang sistem saraf pusat untuk memicu reaksi katabolisme (reaksi untuk menghasilkan energi) di otot. Mekanismenya melalui pengaktifan kerja saraf yang menghasilkan percepatan denyut jantung untuk memompa darah dan oksigen, sembari menstimulasi peningkatan kadar gula darah. Melihat kerja taurin dan kafein, tampak bahwa keduanya berfungsi sebagai perangsang (stimulan) pembentukan energi. Oleh sebab itu, istilah minuman energi tampaknya tidak cocok digunakan, mungkin akan lebih tepat jika namanya adalah minuman perangsang produksi energi.